Tag Archives: dokter

100-an Warga Semarang Dijemput Bus Polisi untuk Pengecekan Kesehatan oleh Siswa SIPSS 2016

1 sipss 2 sipss 4 sipss 3 sipss

Semarang – Ratusan warga Kecamatan Gajahmungkur dari beberapa Kelurahan dijemput anggota kepolisian. Mereka dibawa menggunakan bus dan menuju RS Bhayangkara di Akademi Kepolisian (Akpol).

Sekitar 150 warga dari sejumlah Kelurahan di kecamatan Gajahmungkur itu dikumpulkan oleh Babinkamtibmas dan dijemput oleh bus Akpol. Bukan terkait kasus, para warga itu sengaja dijemput untuk diperiksa dan diobati gratis oleh dokter-dokter dari kepolisian.

“Tadi dijemput di Kelurahan pakai bus. Sebelumnya dikasih tahu ketua RW ada pengobatan gratis,” kata salah satu warga Gajahmungkur, Diah (34), Rabu (14/9/2016).

Diah dan seratusan warga lainnya memanfaatkan program bakti sosial dan pengobatan gratis massal yang diadakan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS). Para warga sama sekali tidak dipungut biaya.

“Saya sering capek, ini mau cek gula darah, gratis,” tandasnya.

Panitia memang sengaja mendatangkan warga kurang mampu di sekitar Kecamatan Gajahmungkur yang masih satu wilayah dengan Akpol untuk pengobatan gratis. Para peserta pun mengantre untuk diperiksa dan diobati oleh 11 dokter dari kepolisian.

Pasien masuk ke ruangan dan diperiksa tekanan darah dan dicatat keluhan-keluhannya. Dokter dari kepolisian itu kemudian memberikan saran dan rekomendasi jika penyakitnya ringan. Pengobatan pun dilakukan kepada warga yang butuh obat.

“Ini memang untuk masyarakat sekitar. Ini baru pertama, nanti kalau ini sudah ter-blow up, bisa lebih luas. Kan tidak seluruh masyarakat bisa melakukan pengobatan karena kondisi (ekeonomi) mereka,” kata Wakil Gubernur Akpol, Brigjen Imam Budi Supeno.

Selain bakti sosial pengobatan gratis, dibuka juga donor darah dan mendatangkan PMI. Mayoritas peserta donor darah yaitu dari kepolisian dan anggota Bhayangkari. Panitia sekaligus siswa SIPSS, dr Margareta menambahkan, kegiatan berupa penyuluhan juga diberikan kepada siswa-siswa SD salah satunya soal bahaya gadget.

“Sekarang ini kan banyak anak-anak bermain gadget, kita beri penyuluhan bahayanya jika keseringan. Tadi pagi sudah di SD Bhayangkara,” kata Margaret.

Kegiatan dari siswa SIPSS detasemen Satria Dharma Laksana disambut baik oleh warga. Warga berharap kegiatan tersebut bisa terus ada karena sangat membantu.

“Kegiatan ini akan bermanfaat, sebagai ajang berlatih, bentuk aplikasi awal ilmunya, sesuai hakikat dalam pengabdian dan institusi,” tegas Imam saat membacakan amanah dari Gubernur Akpol Irjen Anas Yusuf.
(alg/try)

sumber: http://news.detik.com/jawatengah/3298070/100-an-warga-semarang-dijemput-bus-polisi-untuk-diobati

 

AKBP Sumy Hastry, Polisi Bergelar Doktor Spesialis Forensik Pertama di Asia (Sepa PK Polri th. 98)

09d02707-fffe-4b41-9941-36f564e51030_169 779571b7-8a96-45e5-9aee-29faad0d870b_169 002614300_1426241375-Sumy_Hastry_Purwanti_8 022060700_1426241233-Sumy_Hastry_Purwanti_2 063145700_1413281847-z5 068966000_1426241624-Sumy_Hastry_Purwanti_6 098538000_1426241495-Sumy_Hastry_Purwanti_3 073919_135648_DVI_besar luar-biasa-akbp-sumy-hastry-raih-gelar-doktor-forensik-pertama-di-asia_20160314_145200

Kepala Sub Bidang Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Bidang Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah, AKBP Sumy Hastry Purwanti menjadi  polisi pertama di Asia yang menyandang gelar doktor spesialis forensik. Penelitiannya bahkan sangat berguna untuk kecepatan identifikasi jenazah karena bisa melihat suku dari DNA jenazah.

Disertasi yang dilakukan Hastry yaitu meneliti DNA Mitokondria dari lima populasi di Indonesia yaitu Batak di Sumatera, Dayak di Kalimantan, Toraja di Sulawesi, Trunyan di Bali, dan Suku Jawa di di Pulau Jawa. Menurut Hastry, lima suku tersebut mewakili lima populasi besar sesuai teori migrasi di Indonesia.

“Lima suku itu cukup mewakili lima pulau besar di Indonesia.  Budaya penguburannya juga hampir sama,” kata hastry.

Hastry mendatangi lokasi-lokasi asli tempat mayat itu dimakamkan untuk mengambil sample DNA. Demi disertasinya yang berjudul: Variasi Genetika Pada Populasi Batak, Jawa, Dayak, Toraja dan Trunyan dengan Pemeriksaan D-Loop Mitokondria DNA untuk Kepentingan Identifikasi Forensik, Hastry juga mengikuti adat istiadat daerah setempat untuk mengambil sample pada jenazah.

Ia mencontohkan, ketika hendak mengambil sampel DNA dari jenazah yang disimpan di tugu, maka ia harus menuruti adat setempat yaitu dengan bernyanyi. Di Kalimantan ia juga harus melakukan potong babi, namun karena muslim, Hastru memotong ayam agar tetap bisa menyantapnya.

“Bagi mereka ini pertama kalinya ada permintaan seperti itu (mengambil sampel DNA). Sempat susah, tapi karena diterangkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, akhirnya diizinkan,” tandas Hastry.

Dari 70 sample  yang diambil oleh Hastry, 50 diantaranya dapat terbaca DNA-nya. Kesulitan terjadi pada jenazah di Trunyan, Bali karena tulang-tulang diletakkan di bawah pohon dan terpapar sinar matahari dan terpengaruh kelembapan udara. Ia menambahkan, untuk di pulau Jawa yang memiliki adat pemakaman dikubur, maka sampel diambil dari beberapa temuan mayat.

“Untuk di Jawa, saya ambil sampel dari beberapa temuan mayat  karena  rata-rata diletakkan di atas tanah kemudian ditinggal,” jelasnya.

Dari usahanya selama setahun meneliti, kesimpulannya adalah  meski semua DNA tidak ada yang sama, diketahui masyarakat Jawa, Batak, dan Dayak memiliki kemiripan DNA sedangkan Toraja dan Trunyan memiliki perbedaan sendiri. Jadi bisa dilihat dari DNA Mitokondria mayat yang diteliti merupakan suku apa, karena pola pewarisan dari ibu memiliki perbandingan genetika 1: 33 atau bisa diturunkan sampai 33 generasi.

“Ada beberapa persamaan dari DNA Mitokondria. Dari pola pewarisan yang diturunkan oleh ibu. Kita bisa menditeksi sampai 33 generasi,” tegas Hastry.

Hasil penelitiannya itu tentu saja berguna bagi ilmu forensik di Indonesia. Selanjutnya hasil penelitian tersebut akan dimasukkan dalam database DNA suku-suku di Indonesia sehingga proses identifikasi korban kejahatan atau musibah dan bahkan tersangka pidana bisa lebih cepat.

“Misalnya, ada tersangka punya DNA orang Batak, maka penyidik bisa mengkerucutkan target operasinya ke orang Batak. Selain itu saya ingin membuktikan walau kondisi (jenazah) sudah hancur, tapi masih bisa dilihat DNA-nya,”  terang Hastry.

Selain berguna bagi ilmu kedokteran forensik di Indonesia, penelitiannya itu mengantarkannya menjadi polisi bergelar doktor spesialis forensik pertama di Asia dan lulus cumlaude  di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan IPK 3,89 pada 10 Maret lalu. Ia menyelesaikan Program Studi Ilmu Kedokteran Jenjang Doktor (S3) dalam waktu 3 tahun 10 bulan.

“Di tingkat Asia sudah ada data base DNA. Tapi lima suku ini belum ada,” pungkasnya.

Diketahui, Hastri merupakan polisi yang berpengalaman  menjalankan tugas di bidang Disaster Victim Identification (DVI). Sejumlah kasus besar ia tangani mulai bom Bali 1 tahun 2002 lalu hingga Malaysia Airlines MH-17 di Ukraina, dan AirAsia QZ8501. Ia diperbantukan hingga luar negeri karena keahliannya yang memang sudah tingkat dunia.  dr. Hastry merupakan alumni fakultas kedokteran Undip. Kemudian bergabung dengan SEPA PK Polri tahun 1998.

(disunting dari berbagai sumber)

berikut beberapa video AKBP Sumy Hastry saat tampil di TV:


Loading the player …